ads

Showing posts with label Pendidikian. Show all posts
Showing posts with label Pendidikian. Show all posts

Thursday, November 28, 2019

Ujian Nasioal Dihapuskan (UN 2020 Menjadi Yang Terakhir)


Hapus Ujian Nasional

Baru-baru ini dunia pendidikan menjadi sorotan berita tak hanya hal ini dikarnakan Pa Nadiem yang masih muda sebagai menteri pendidikan tapi juga karena ide-ide yang di gagasnya. Setelah viral dengan pidatonya pada Hari Guru kali ini beliau juga membuat sebuah gagasan yang membuat duni pendidikan semakin “Nano-nanao” heh, ya dengan pernyataan beliau mengenai Ujian Nasional (UN) dimana dia mengatakan bahwa Ujian Nasional (UN) Tahun 2020 merupakan Ujian Nasional (UN) terakhir, dengan kata lain Ujian Nasional akan di Hapuskan, ta kaya berbagai pendapat pun muncul. Melihat gagasan pa Nadiem yang mau menghilangkan Ujian Nasional, berikut ini beberapa Negara yang tidak ada Ujian Nasional…

Negara-negara ini merupakan negara-negara hebat di dunia, mereka merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik dari seluruh dunia. Bahkan ada negara yang hanya sekolah 5 jam/hari tanpa PR loh. Ujian nasional merupakan salah satu ujian yang ditakuti karena katanya menentukan kelulusan mereka. Nah, bagaimana nih dengan negara-negara berkut ini yang sekolah dalam waktu singkat, tanpa PR dan tanpa Ujian Nasional. Kita lihat satu per satu yuk bagaimana sistem pendidikan mereka!

1. Finlandia

Finlandia sebagai salah satu negara maju di dunia yang memiliki sistem pendidikan terbaik dari seluruh dunia. Finlandia tidak membebankan pelajar artinya mereka sangat jarang sekali mendapatkan PR apalagi UN (Ujian Nasional). Cara belajar di finlandia 45 menit belajar, 15 menit istirahat. Evaluasi mutu pendidikan diberikan oleh guru-guru sehingga negara berkewajiban melatih guru-guru agar bisa melakukan evaluasi yang berkualitas sehingga dari evaluasi tersebut membuat siswanya mendapatkan nilai tinggi tanpa stres, sehingga mereka tahu bahwa siswanya memiliki potensi yang berbeda-beda. Di Finlandia, guru merupakan profesi yang sangat dihormati dan bahkan dokter berada di bawah peringkat guru

2. Amerika

Walau pun gak ada ujian nasional, tapi untuk masuk ke universitas siswa juga harus memenuhi kriteria nilai-nilai yang sudah ditentukan dan kriteria lainnya, biasanya gak gampang.

3. Jerman

Negara maju yang ini terkenal dengan pemikiran kreatifnya dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Eropa. Negara ini juga tidak melaksanakan ujian nasional, mereka mendorong bidang pendidikan dengan serius, memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, merancang guru profesional, mempasilitasi media pembelajaran yang banyak dan melaksanakan evaluasi terus menerus. Sehingga di negara ini siswanya tidak hanya cerdas tetapi memiliki tingkah atau perilaku yang baik pula.

4. Kanada

Pendidikan di Kanada dipasilitasi, dibiayai dan dievaluasi oleh pemerintah federal, provinsi, dan pemerintah daerah. Pendidikan berada di dalam yurisdiksi pemerintahan provinsi dan kurikulum diawasi oleh pemerintahan provinsi.

5. Australia

Di negeri kanguru ini tidak mengenal sama sekali ujian nasional melainkan Ujian State. Ujian State tidak menentukan lulus tidaknya para peserta didik tetapi sebagai penentu untuk melanjutkan pendidikan.


Monday, February 25, 2019

Menyiapkan Guru Era Pendidikan 4.0


Menyiapkan Guru Era Pendidikan 4.0

Pendidikan sejatinya memberikan daya dukung untuk setiap perkembangan potensi sumberdaya manusia (SDM) supaya bisa berkembang sesuai dengan keadaan lingkungannya. 
Oleh sebab itu pendidikan pun perlu berupaya terus memberikan revolusi dalam semua aspek baik dari segi cara pembelajarannya atau dari segi sistem pendidikan.
Evolusi bidang pendidikan dan pembelajaran ini senantiasa disesuaikan dengan keadaan zaman. Seperti halnya saat ini  kita sudah memasuki era industri 4.0  yang ditandai dengan bermunculannya industri unicorn.
Dunia Pendidikan terus berkembang dengan banyaknya massive open online course atau (kursus/bimbingan online) dimana pendidikan tidak terikat dengan zonasi, tempat, ruangan, bahkan waktu. 
Yang sering dijadikan rujukan dalam mendapatkan informasi serta pembelajaran saat ini adalah  artificial intlligence (AI) atau laman penelusuran, dimana AI ini dikembangkan untuk membantu setiap individu dapat belajar dimana pun dan kapan pun dengan menyajikan informasi secara cepat.
Perubahan besar ini akan berpengaruh pada kegiatan belajar mengajar, dimana proses belajar mengajar mengalami perubaha kearah pembelajaran Digital.
Pada kegiatan belajar mengajar Guru harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang multi-stimulasi sehingga lebih menyenangkan, menarik lebih fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan cepat. 
Fungsi guru bergeser secara fundamental dimana guru akan lebih sukses jika mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itu tidak diajarkan oleh mesin.

Untuk menghadapi kemajuan teknologi yang luar biasa tersebut diperlukan pendampingan yang terus menerus terhadap Guru untuk mampuh membentuk kepribadian siswa yang tangguh dalam menghadapi era digital ini.
Selain itu dibutuhkan peran aktif semua pihak baik pendampingan orang tua, kearifan guru, dan kedewasaan masyarakat. Semoga dengan perlakukan tersebut kita mampu mewujudkan generasi emas Indonesia yang kelak akan meneruskan kita.

Monday, January 25, 2016

DAMPAK LINGKUNGAN BAGI PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Peran pendidikan bagi suatu bangsa sangat penting. Dan itu tidak bisa di pungkiri lagi, sehingga pendidikan dan pengajaran mutlak diperlukan bukan hanya untuk membangun suatu peradaban yang lebih bagus tapi itu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagian orang menjadikan ta’lim dan ta’allum (belajar dan mengajarkan ilmu) bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan, dalam arti bahwa ta’lim dan ta’allum merupakan thariqah (jalan hidup). Bukan hanya sekedar konsepsi tapi sudah menjadi tradisi.
Sebagaimana Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan, yaitu:
  1. Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
  2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Namun ketika kita melihat problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh sangat kompleks sekali, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Belum lagi budaya primitif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instan dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Apalagi ketika melihat anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya, sedikitnya ada tiga factor yang mempengaruhi perkembangan anak-anak didik sekarang. Inilah yang menurut penulis menjadi sorotan penting bagi kita sebagai anak didik agar bisa lebih berhati-hati di dalam bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi, Keempap, televisi.

Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.

Kedua, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas perkembangan karakter anak-anak hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain.

Ketiga, media sosial . Harus diakui teknologi/media sosial mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau Bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisik-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.

Keempat, Televisi/TV. Disadari atau tidak TV merupakan media yang sangat mudah dicontoh oleh kalangan anak muda saat ini dengan berbagai macam tayangan apalgi berupa sinetron sebagai contoh apa yang terjadi di daerah saya dengan adanya tayangan sinetron yang dewasa ini menjadi kegemaran baik anak kecil, remaja dan orang tua yaitu sinetron anak jalanan dengan sosok "SI BOY" dan Perempuan Dipinggir Jalan denga jargon "PDPJ" disadari atau tidak dengan danya sinetron tersebut mendorong anak-anak dan remaja menirukan peran dan karakter yang ada pada sinetron tersebut contohnya dengan banyaknya anak-anak dari mulai tingkat SD-SMA saat ini membuat sebuah "GENG motor yang terinsviras dari sosok "SI BOY" bagaimana kalau invirasi ini tumbuh dan berkembang menjadikan mereka tauran dan sebaginya..? kemudian sinetron yan gak bermoral lainnya adalah PDPJ dengan mengisahkan seorang PELACUR yang baik hati dan isayangi semua orang, bagaimana kalau suatu ketika sinetron PDPJ ini di jadikan gaya2an dan insvirasi oleh kalangan anak-anak perempuan, apa kita siap memiliki anak, adik, saudara yang PELACUR..?


Kesimpulannya adalah setiap manusia dilahirkan oleh allah dengan keadaan yang bersih, seperti kertas bersih tanpa adanya catatan apapun, tergantung kita (Orang Tua) memberikan catatan apa bagi anak-anak kita. 

Sunday, January 17, 2016

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

  1. PENDIDIKAN ISLAM
            Pada awal abad 20 M, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yaitu: Pertama, pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah Barat yang sekuler yang tak mengenal ajaran agama, dan Kedua, pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal pendidikan agama saja.
            Pendidikan Islam di Indonesia banyak terselenggara dalam bentuk pendidikan pesantren dan madrasah. Menurut Dahlan Hasim dalam Fadjar,[22] madrasah oleh sebagian masyarakat masih dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”. Akibatnya, meskipun secara yuridis keberadaan madrasah diakui sejajar dengan sekolah formal lain, madrasah umumnya hanya diminati oleh siswa-siswa yang kemampuan inteligensi dan ekonominya relatif rendah atau ”pas-pasan”. Sementara masyarakat menengah atas sepertinya enggan menyekolahkan anaknya ke lembaga ini, sehingga usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah selalu mengalami hambatan.
Rendahnya animo masyarakat menengah atas (upper midle class) untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah, dilihat dari perspektif fungsional—sebuah teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan sistem yang saling bergantung dan berhubungan—mengindikasikan dua hal yang saling berkorelasi; pertama, terkait dengan problem internal kelembagaan.dan kedua, terkait dengan parental choice of education. Problem internal madrasah yang selama ini dirasakan, seperti dikatakan Malik Fadjar[23] meliputi seluruh sistem kependidikannya, terutama sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas dan kuantitas guru, kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya.
            Tidak sedikit orang tua dari peserta didik yang gelisah dan mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah umum yang lebih menjanjikan pada aspek ilmu pengetahuan umum dan teknologi, dengan harapan agar di masa yang akan datang anak-anak mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa hidup dengan layak di tengah masyarakat.[24]
Harus diakui bahwasanya pendidikan Islam menempati posisi yang kurang menguntungkan di negara Indonesiaini. Bahkan ada asumsi di masyarakat bahwasanya prestasi lulusan madrasaah berada di bawah sekolah umum. Hal inilah yang kemudian kepercayaan dan minat masyarakat lebih bangga menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah umum. Untuk menjembatani permasalahan di atas, maka dibukalah program sekolah terpadu kurikulumnya (agama dan umum) dengan menggunakan sistem full day school (dengan menambah jam belajar untuk pendalaman materi).
Tidak hanya karena keterbelakangan pendidikan Islam yang kalah dibanding pendidikan umum, bukan satu-satunya alasan atas hadirnya pendidikan terpadu. Namun kehidupan manusia yang semakin komplek terutama di perkotaan. Menumpuknya kesibukan orang tua di masyarakat perkotaan seringkali berimbas pada pendidikan anak. Bahkan ketidakjelasan pendidikan sekolah, juga menambah permasalahan di pergaulankota. Sehingga mereka benar-benar membutuhkan sebuah pendidikan yang dapat memberikan pendidikan pengetahuan umum dan pendidikan agama secara bersamaan. Dengan inilah, pendidikan terpadu sangat penting adanya di dalam masyarakat perkotaan.
Krisis moneter dan diikuti krisis ekonomi yang telah melanda bangsa Indonesia, boleh jadi berpangkal pada krisis akhlak. Banyak kalangan menyatakan bahwanya akhlak erat kaitannya dengan moral. Hal itu sangat berhubungan dengan urusan agama. Menurut Fazlur Rahman dalam Said Aqil Husain Munawar, ia menyatakan bahwasanya inti ajaran agama adalah moral yang bertumpu pada keyakinan kepercayaan kepada Allah (habl min Allah) dan keadilan serta berbuat baik dengan sesama manusia (habl min al-Nas).[25]
Beberapa tahun terakhir, kesadaran akan pentingnya aspek keagamaan sebagai salah satu aspek yang perlu disentuh dalam pendidikan, juga sudah mulai mewabah di masyarakat, Seringkali kita mendengar  pepatah, science without religion is blind, and religion without science is lame. Sama halnya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan agama adalah buta. Jadi wajar kalau mudah menabrak saat berjalan, walaupun dengan menggunakan tongkat, berjalannya akan tetap lambat, membutuhkan waktu yang lama. Bagitu juga akan menjadi lumpuh jika pengetahuan karakter tanpa hadirnya pengetahuan kognitif. Karena hal ini berpotensi untuk dimanfaatkan dan dikendalikan oleh orang lain. Dengan demikian keduanya sama-sama dibutuhkan dan diharapkan dapat terintegrasi dalam nilai-nilai agama.
Hadirnya pendidikan terpadu dengan sistem full day school merupakan solusi yang tepat untuk menjembatani keseimbangan antara pengetahuan umum yang seringkali diidentikkan dengan penyelenggaraan pendidikan kognitif, yang digandengkan dengan pendidikan agama secara seimbang.
Era globalisasi, dewasa ini dan di masa mendatang, sedang dan terus memengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat muslim Indonesiaumumnya, atau pendidikan Islam, khususnya. Argumen panjang lebar tak perlu dikemukakan lagi, bahwa masyarakat muslim tidak ingin survive dan berjaya di teerjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif di masa kini dan abad ke-21.[26]

SISTEM PENDIDIKAN SEKOLAH UNGGUL


Sekolah Unggul


Pengembangan Sistem Penyelengggaraan Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan

Pengembangan Sistem Penyelengggaraan Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan
Di Indonesia, dari sisi ukuran muatan keunggulan, sekolah unggulan di Indonesia juga kurang memenuhi syarat. Sekolah unggulan di Indonesia hanya mengukur sebagian kemampuan akademis. Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya prestasi akademis saja yang ditumbuh-kembangkan, melainkan potensi psikis, fisik, etik, moral, religi, emosi, spirit, adversity dan intelegensi.

Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. application kelas unggulan di Indonesia secara pedagogis menyesatkan, bahkan ada yang telah memasuki wilayah malpraktik dan akan merugikan pendidikan kita dalam jangka panjang. Kelas-kelas unggulan diciptakan dengan cara mengelompokkan siswa menurut kemampuan akademisnya tanpa didasari filosofi yang benar. Pengelompokan siswa ke dalam kelas-kelas menurut kemampuan akademis tidak sesuai dengan hakikat kehidupan di masyarakat. Kehidupan di masyarakat tak ada yang memiliki karakteristik homogen.

Bila boleh mengkritisi, pelaksanaan sekolah unggulan di Indonesia memiliki banyak kelemahan.
Pertama, sekolah unggulan di sini membutuhkan legitimasi dari pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat. Sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politis dari pada muatan edukatifnya. Apabila sekolah unggulan didasari atas pengakuan masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada sekolah unggulan, karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas keunggulan sekolah itu.

Kedua, sekolah unggulan hanya melayani golongan kaya, sementara itu golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggulan walaupun secara akademis memenuhi syarat. Untuk mengikuti kelas unggulan, selain harus memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan uang jutaan rupiah. Artinya penyelenggaraan sekolah unggulan bertentangan dengan prinsip equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati pendidikan yang baik. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki hati nurani yang berkeadilan.

Ketiga, profil sekolah unggulan kita hanya dilihat dari karakteristik prestasi yang tinggi berupa NEM, input siswa yang memiliki NEM tinggi, ketenagaan berkualitas, sarana prasarana yang lengkap, dana sekolah yang besar, kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah unggul. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.Oleh karena itu penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini.
Maka konsep sekolah unggulan yang tidak unggul ini harus segera direstrukturisasi. Restrukrutisasi sekolah unggulan yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

Pertama, application sekolah unggulan tidak perlu memisahkan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa. Misalnya anak yang memiliki bakat keunggulan seni tetap masuk dalam kelas reguler, namun diberi pengayaan pelajaran seni.

Kedua, dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika seperti yang diwujudkan dalam take a look at IQ. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yang hingga kini dikenal adanya 8 macam kecerdasan (a couple of itegensies).

Ketiga, sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak yang kaya saja tetapi menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua kalangan. Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru untuk membela kalangan miskin. Misalnya Effectif Schoolyang dikembangkan awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard college adalah untuk membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak kaya. Demikian pula dengan college improvement application yang dikembangkan oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin. Accellerated college yang diciptakan oleh Henry Levin dari Standford college juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. vital schoolyang diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown college, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu.

Keempat, Madrasah/sekolah Islam unggulan harus memiliki model manajemen yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah, memiliki kepemimpinan yang kuat, memiliki budaya sekolah yang kuat, mengutamakan pelayanan pada siswa, menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing, terpenuhinya harapan siswa dan berbagai pihak terkait dengan memuaskan.

Saat ini amat tepat untuk mengembangkan madrasah/sekolah unggulan karena terdapat dua suprastruktur yang mendukung. Pertama, UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. Dengan adanya kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius. Kedua, adanya UU No. 25 tahun 2000 tentang application Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu software pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. Melalui pendidikan berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sekolah. Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka sekolah tidak akan pernah menjadi sekolah unggul. Bisa saja semua sekolah menjadi sekolah unggul yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan warganya. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggul maka tidak sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya.

Ketika mengamati madrasah mencatat empat persoalan umum yang menjadi penurunan kualitas madrasah seperti yang diungkapkan oleh Malik Fadjar (1998) yaitu (1) kualitas dan kuantitas guru yang belum memadai; (2) sarana fisik dan fasilitas pendidikan yang minim; (3) manajemen non profesional; (4) jumlah murid yang sedikit dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. kesimpulan Fajar ini relevan  dengan hasil evaluasi Dirjen Bimbagais (1997) tentang penerapan kurikulum 1994 yang masih lemah pada tiga unsur pokok dalam proses pembelajaran yaitu (1) kurikulum yang dinilai yang terlalu sarat, kurang fungsional dan kurang proporsional; (2) sumberdaya pendidikan yang lemah di bidang sumberdaya manusia sarana prasarana dan pembiayaan/dana; (three) rendahnya kualitas pembelajaran disebabkan kurangnya penerapan metodologi dan teknologi pengajaran, motivasi dan semangat, serta pengembangan kreativitas guru yang belum kondusif.

Banyak tantangan yang mesti dihadapi madrasah. Pertama, selama ini picture masyarakat tentang madrasah masih kurang baik. Produk madrasah masih dianggap kurang berkualitas, khususnya dalam ilmu pengetahuan umum. Hal ini mengharuskan madrasah tetap komitmen memperbaiki mutu pendidikan khususnya pendidikan umum tersebut.

Kedua, masih adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum (atau pemikiran dokmatis), sehingga  terjadi istilah-istilah dan praktek pendidikan sebagai berikut: konsep ’abdullah lebih dominan ketimbang kholifatullah, sekolah lebih menampakkan praktek punishment dari padareward, lebih berorientasi kepada hablum minallah dari pada hablum minannas, lebih dominannya budaya kata (bil maqol) dari pada perbuatan (bil hal), berpikir rasional lebih dikalahkan oleh pendekatan emosional, penemuan empiris dibatalkan oleh ramalan-ramalan, etos seringkali dikalahkan oleh mitos, masih ada kebiasaan memisah dunia dan akhirat, antara wahyu dan akal.

Ketiga, diberlakukannya UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas yang telah menempatkan posisi madrah ekuivalen dengan kelembagaan pendidikan nasional pada umumnya (SMP umum dan SMA), menempatkan kedudukan madrasah sebagai sekolah umum (yang berciri khas Islam). Hal ini mengandung arti bahwa peserta didik madrasah sederajat dengan peserta didik di SMP dan SMU umum. Kondisi ini mengharuskan madrasah menghasilkan produk yang cerdas, terampil, dan bertaqwa.

Keempat, diberlakukannya kurikulum baru tahun 2006 (KTSP), yang memberlakukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa Madrasah secara keseluruhan, baik untuk mata pelajaran umum maupun mata pelajaran agama, telah disamakan dengan siswa SMP dan SMU umum. Di mana alokasi jumlah jam untuk mata pelajaran agama di madrasah pun berkurang. Hal ini mengkhawatirkan guru-guru madrasah tidak dapat memberikan layanan maksimal dalam pengajaran bidang ilmu-agama. Kondisi tersebut mengharuskan madrasah mencari solusi yang tepat agar dapat menghasilkan produk yang unggul dalam ilmu-ilmu agama.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ace Suryadi, H.A.R. Tilaar, bahwa pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi, baik modal maupun manusia (human and capital investmen) untuk membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan produktif di masa depan yang diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya. Pergeseran tersebut mengarah pada; Pertama, terjadinya teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, kecenderungan perilaku masyarakat yang lebih fungsional, dimana hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata, ketiga, masyarakat padat informasi, dan keempat, kehidupan yang makin sistemik dan terbuka, yakni masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open sistem).

Usaha pengembangan sekolah model ini penting dilakukan, seyampang tidak meninggalkan aspek-aspek peningkatan mutu pendidikan. Misalnya: (1) pembinaan prestasi akademik harus selalu ditingkatkan dengan memberikan jadwal remedial secara kolektif atau secara individu bagi anak-anak yang kurang mampu dalam mengikuti pelajaran di kelas, sehingga anak benar-benar sangat menguasai pelajaran, (2) pembinaan prestasi non akademik melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler harus terus ditingkatkan. Seluruh potensi siswa sebisa mungkin dapat digali dan disalurkan serta diasah sehingga kelak setiap siswa dapat mempunyai bidang ketrampilan (bekal hidup) yang ditekuni secara profesional sesuai minat dan bakatnya, (3) peningkatan mutu dan kualitas tenaga pengajar, sarana prasarana belajar termasuk perpustakaan dan laboratorium serta sumber-sumber belajar lainnya, (4) memberikan teladan dalam melaksakan college culture sehingga siswa memiliki karakter yang tangguh dalam menjalankan keyakinan agamanya, dan (5) menjalin kerjasama antara sekolah dan masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah.

Jika dilihat dari kecenderungan atau gejala sosial baru yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini yang berimplikasi pada tuntutan dan harapan tentang model pendidikan yang mereka harapkan, maka sebenarnya madrasah memiliki potensi dan peluang besar untuk menjadi alternatif pendidikan masa depan. Kecenderungan tersebut antara lain sebagai berikut ;
Pertama, terjadinya mobilitas sosial yakni munculnya masyarakat menengah baru terutama kaum intelektual yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan pesat. Kelas menengah baru senantiasa memiliki peran besar dalam proses transformasi sosial, di bidang pendidikan misalnya akan berimplikasi pada tuntutan terhadap fasilitas pendidikan yang sesuai dengan aspirasinya baik cita-citanya maupun status sosialnya. Karena itu lembaga pendidikan yang mampu merespon dan mengapresiasi tuntutan masyarakat tersebut secara cepat dan cerdas akan menjadi pilihan masyarakat ini.
Kedua, munculnya kesadaran baru dalam beragama (“santrinisasi”), terutama pada masyarakat perkotaan kelompok masyarakat menengah atas, sebagai akibat dari proses re-Islamisasi yang dilakukan secara intens oleh organisasi-organisasi keagamaan, lembaga-lembaga dakwah atau yang dilakukan secara perorangan. Terjadinya santrinisasi masyarakat elit tersebut akan berimplikasi pada tuntutan dan harapan akan pendidikan yang mengaspirasikan reputation sosial dan keagamaannya. Sebab itu pemilihan lembaga pendidikan didasarkan minimal pada dua hal tersebut, yakni status sosial dan agama.
Ketiga, arus globalisasi dan modernisasi yang demikian cepat perlu disikapi secara arif. Modernisasi dengan berbagai macam dampaknya perlu disiapkan manusia-manusia yang memiliki dua kompetensi sekaligus; yakni Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan nilai-nilai spiritualitas keagamaan (IMTAQ). Kelemahan di salah satu kompetensi tersebut menjadikan perkembangan anak tidak seimbang, yang pada akhirnya akan menciptakan pribadi  yang pincang (cut up persona). Arus globalisasi dan modernisasi tersebut akhirnya berimplikasi pada tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pendidikan yang disamping dapat mengembangkan potensi-potensi akademik ilmu pengetahuan dan teknologi juga internalisasi nilai-nilai riligiusitas.