ads

Monday, January 25, 2016

DAMPAK LINGKUNGAN BAGI PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Peran pendidikan bagi suatu bangsa sangat penting. Dan itu tidak bisa di pungkiri lagi, sehingga pendidikan dan pengajaran mutlak diperlukan bukan hanya untuk membangun suatu peradaban yang lebih bagus tapi itu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagian orang menjadikan ta’lim dan ta’allum (belajar dan mengajarkan ilmu) bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan, dalam arti bahwa ta’lim dan ta’allum merupakan thariqah (jalan hidup). Bukan hanya sekedar konsepsi tapi sudah menjadi tradisi.
Sebagaimana Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan, yaitu:
  1. Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
  2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Namun ketika kita melihat problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh sangat kompleks sekali, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Belum lagi budaya primitif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instan dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Apalagi ketika melihat anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya, sedikitnya ada tiga factor yang mempengaruhi perkembangan anak-anak didik sekarang. Inilah yang menurut penulis menjadi sorotan penting bagi kita sebagai anak didik agar bisa lebih berhati-hati di dalam bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi, Keempap, televisi.

Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.

Kedua, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas perkembangan karakter anak-anak hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain.

Ketiga, media sosial . Harus diakui teknologi/media sosial mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau Bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisik-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.

Keempat, Televisi/TV. Disadari atau tidak TV merupakan media yang sangat mudah dicontoh oleh kalangan anak muda saat ini dengan berbagai macam tayangan apalgi berupa sinetron sebagai contoh apa yang terjadi di daerah saya dengan adanya tayangan sinetron yang dewasa ini menjadi kegemaran baik anak kecil, remaja dan orang tua yaitu sinetron anak jalanan dengan sosok "SI BOY" dan Perempuan Dipinggir Jalan denga jargon "PDPJ" disadari atau tidak dengan danya sinetron tersebut mendorong anak-anak dan remaja menirukan peran dan karakter yang ada pada sinetron tersebut contohnya dengan banyaknya anak-anak dari mulai tingkat SD-SMA saat ini membuat sebuah "GENG motor yang terinsviras dari sosok "SI BOY" bagaimana kalau invirasi ini tumbuh dan berkembang menjadikan mereka tauran dan sebaginya..? kemudian sinetron yan gak bermoral lainnya adalah PDPJ dengan mengisahkan seorang PELACUR yang baik hati dan isayangi semua orang, bagaimana kalau suatu ketika sinetron PDPJ ini di jadikan gaya2an dan insvirasi oleh kalangan anak-anak perempuan, apa kita siap memiliki anak, adik, saudara yang PELACUR..?


Kesimpulannya adalah setiap manusia dilahirkan oleh allah dengan keadaan yang bersih, seperti kertas bersih tanpa adanya catatan apapun, tergantung kita (Orang Tua) memberikan catatan apa bagi anak-anak kita. 

Sunday, January 17, 2016

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

  1. PENDIDIKAN ISLAM
            Pada awal abad 20 M, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yaitu: Pertama, pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah Barat yang sekuler yang tak mengenal ajaran agama, dan Kedua, pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal pendidikan agama saja.
            Pendidikan Islam di Indonesia banyak terselenggara dalam bentuk pendidikan pesantren dan madrasah. Menurut Dahlan Hasim dalam Fadjar,[22] madrasah oleh sebagian masyarakat masih dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”. Akibatnya, meskipun secara yuridis keberadaan madrasah diakui sejajar dengan sekolah formal lain, madrasah umumnya hanya diminati oleh siswa-siswa yang kemampuan inteligensi dan ekonominya relatif rendah atau ”pas-pasan”. Sementara masyarakat menengah atas sepertinya enggan menyekolahkan anaknya ke lembaga ini, sehingga usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah selalu mengalami hambatan.
Rendahnya animo masyarakat menengah atas (upper midle class) untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah, dilihat dari perspektif fungsional—sebuah teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan sistem yang saling bergantung dan berhubungan—mengindikasikan dua hal yang saling berkorelasi; pertama, terkait dengan problem internal kelembagaan.dan kedua, terkait dengan parental choice of education. Problem internal madrasah yang selama ini dirasakan, seperti dikatakan Malik Fadjar[23] meliputi seluruh sistem kependidikannya, terutama sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas dan kuantitas guru, kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya.
            Tidak sedikit orang tua dari peserta didik yang gelisah dan mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah umum yang lebih menjanjikan pada aspek ilmu pengetahuan umum dan teknologi, dengan harapan agar di masa yang akan datang anak-anak mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa hidup dengan layak di tengah masyarakat.[24]
Harus diakui bahwasanya pendidikan Islam menempati posisi yang kurang menguntungkan di negara Indonesiaini. Bahkan ada asumsi di masyarakat bahwasanya prestasi lulusan madrasaah berada di bawah sekolah umum. Hal inilah yang kemudian kepercayaan dan minat masyarakat lebih bangga menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah umum. Untuk menjembatani permasalahan di atas, maka dibukalah program sekolah terpadu kurikulumnya (agama dan umum) dengan menggunakan sistem full day school (dengan menambah jam belajar untuk pendalaman materi).
Tidak hanya karena keterbelakangan pendidikan Islam yang kalah dibanding pendidikan umum, bukan satu-satunya alasan atas hadirnya pendidikan terpadu. Namun kehidupan manusia yang semakin komplek terutama di perkotaan. Menumpuknya kesibukan orang tua di masyarakat perkotaan seringkali berimbas pada pendidikan anak. Bahkan ketidakjelasan pendidikan sekolah, juga menambah permasalahan di pergaulankota. Sehingga mereka benar-benar membutuhkan sebuah pendidikan yang dapat memberikan pendidikan pengetahuan umum dan pendidikan agama secara bersamaan. Dengan inilah, pendidikan terpadu sangat penting adanya di dalam masyarakat perkotaan.
Krisis moneter dan diikuti krisis ekonomi yang telah melanda bangsa Indonesia, boleh jadi berpangkal pada krisis akhlak. Banyak kalangan menyatakan bahwanya akhlak erat kaitannya dengan moral. Hal itu sangat berhubungan dengan urusan agama. Menurut Fazlur Rahman dalam Said Aqil Husain Munawar, ia menyatakan bahwasanya inti ajaran agama adalah moral yang bertumpu pada keyakinan kepercayaan kepada Allah (habl min Allah) dan keadilan serta berbuat baik dengan sesama manusia (habl min al-Nas).[25]
Beberapa tahun terakhir, kesadaran akan pentingnya aspek keagamaan sebagai salah satu aspek yang perlu disentuh dalam pendidikan, juga sudah mulai mewabah di masyarakat, Seringkali kita mendengar  pepatah, science without religion is blind, and religion without science is lame. Sama halnya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan agama adalah buta. Jadi wajar kalau mudah menabrak saat berjalan, walaupun dengan menggunakan tongkat, berjalannya akan tetap lambat, membutuhkan waktu yang lama. Bagitu juga akan menjadi lumpuh jika pengetahuan karakter tanpa hadirnya pengetahuan kognitif. Karena hal ini berpotensi untuk dimanfaatkan dan dikendalikan oleh orang lain. Dengan demikian keduanya sama-sama dibutuhkan dan diharapkan dapat terintegrasi dalam nilai-nilai agama.
Hadirnya pendidikan terpadu dengan sistem full day school merupakan solusi yang tepat untuk menjembatani keseimbangan antara pengetahuan umum yang seringkali diidentikkan dengan penyelenggaraan pendidikan kognitif, yang digandengkan dengan pendidikan agama secara seimbang.
Era globalisasi, dewasa ini dan di masa mendatang, sedang dan terus memengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat muslim Indonesiaumumnya, atau pendidikan Islam, khususnya. Argumen panjang lebar tak perlu dikemukakan lagi, bahwa masyarakat muslim tidak ingin survive dan berjaya di teerjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif di masa kini dan abad ke-21.[26]

Top Ad 728x90

Featured Post Via Labels

Top Ad 728x90

Featured post

PERUBAHAN KURIKULUM 2013 REVISI TERBARU 2019

Asssalamuallaikum, wr.wr Salam semangat ya bagi semua guru dan siswa di seluruh Indonesia, kali ini saya akan membahas tentang kebijakan...

Search This Blog

Label 2